15 Juli 1996

Oktober 25, 2006

Kalau kau datang
Hatiku senang berbunga-bunga

Bulan dan bintang
Terangi malam sehabis hujan

Saling bicara, tukar cerita berbagi rasa
Aku disini tetap di tepi masih bernyanyi

Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkan

Aku tak bisa
Untuk tak peduli hatiku tersiksa

Aku bersumpah untuk berbuat yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan
Agar kehidupan berjalan wajar

Hidup kita hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan

Iklan

140484

Oktober 25, 2006

Tahukah kau, kurindu dirimu, tahukah kau
Rasakah kasih, cintaku putih, rasakah kasih

Saat gelisah begitu buas hancurkan jiwa
Saat tak kuat lagi memendam marah
Sungguh aku cinta kau

Jangan didik anak kita penakut
Jangan ajar anak kita pengecut
Tolong kabarkan tinjuku untuknya
Demi kebenaran yang nyata

Istriku manis senyum yang manis
Anakku jantan tertawalah lantang
Istriku manis jangan menangis
Anakku jantan murkalah jantan

Saat gelisah begitu buas hancurkan jiwa
Saat tak kuat lagi memendam marah
Sungguh aku sayang kau


1910

Oktober 20, 2006

Apakabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata… air mata…

Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata… air mata…

Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa
Aku bosan
Lalu terangkat semua beban dipundak
Semudah itukah luka-luka terobati…

Nusantara… tangismu terdengar lagi
Nusantara… derita bila terhenti
Bilakah… bilakah…

Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata… air mata…

O o o o o o o o o…
Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Ho . . . . ho . . . . . ho . . . .
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka

Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang