Ambisi

Oktober 26, 2006

Langkahmu pelan tertatih
Dengan denyut nadi nyaris terhenti
Namun jangan padam ambisi

Rambutmu kusut tak rapi
Melekat di tubuh sejuta daki
Namun jangan padam ambisi
Namun jangan padam ambisi

Tak berkaki
Coba untuk berlari
Tak berjari
Cengkeram berulang kali
Keinginan dihati

Sinar terang lampu merkuri
Pasti akan engkau dapati
Tentu berbekal ambisi
Tentu berbekal ambisi

Tak bermata
Pandang dunia dengan jiwa
Tak bertelinga
Jangan cepat kecewa
Tak berkaki
Coba untuk berlari
Tak berjari
Cengkeram berulang kali
Keinginan dihati


Asmara Dan Pancaroba

Oktober 25, 2006

Awan hitam semakin legam
Hujan panas silih berganti
Gelombang panas menyengat bumi
Insan merintih tak berhenti

Rintih tangis di malam hari
Jerit pilu menyayat kalbu
Wajah sendu menanti pagi
Hujan badai berhenti

Kicau burung ramai bernyanyi
Tanda musim berganti
Kasihku kan datang berlari
Menjemput hatiku yang sepi

Kini ku bersama kembali
Seperti dahulu berseri
Asmaraku yang telah pergi
Kini bersemi lagi


Azan Subuh Masih Di Telinga

Oktober 25, 2006

Ketika fajar menjelang
Terlihat dia melangkah enggan
Seirama dengan dendang subuh
Yang singgah di hati keruh

Sempit jalan berdesak bangunan
Memandang sinis mendakwa bengis
Perempuan satu dan hitamnya waktu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu

Hari pagi menyambut kau kembali
Mengusap nadi mengelus hati
Sesal di hatimu kian mengganggu

Kau reguk habis semua doa doa
Dari surau depan rumah yang kau sewa
Tak terasa surya duduk di kepala
Azan subuh masih di telinga

Terdengar renyah tawa gadis sekolah
Menyibak tabir cerita lama
Didepan retaknya cermin yang telah usang
Menari dia seperti dahulu

Terdengar pelan ketuk pintu
Tegur anakmu buyarkan lamunan
Perempuan satu kian terbelenggu

Dihapusnya gincu dengan ujung baju
Dibuangnya dengus birahi sejuta tamu


Air Mata Api

Oktober 25, 2006

Aku adalah lelaki tengah malam
Ayahku harimau, ibuku ular
Aku dijuluki “Orang Sisa-Sisa”
Sebab kerap merintih, kerap menjerit

Temanku hitam, temanku lagu
Nyanyikan tangis, marah, dan cinta
Temanku niat, temanku semangat
Yang kian hari kian berkarat, semakin berkarat

Aku berjalan orang cibirkan mulut
Aku bicara mereka tutup hidung
Aku tersinggung peduli nilai-nilai
Aku datangi dengan segunung api

Mereka lari ke ketiak ibunya
Ku tak peduli marahku menjadi
Mereka lari ke meja ayahnya
Aku tak mampu tenagaku terkuras

Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Lelaki tengah malam terkulai di tepi malam
Orang sisa-sisa menangis, orang sisa-sisa menangis
Air matanya, air matanya, air matanya api

Mereka lari ke ketiak ibunya
Ku tak peduli marahku menjadi
Mereka lari ke meja ayahnya
Aku tak mampu tenagaku habis terkuras

Air matanya, air matanya, air matanya api


Aku Bosan

Oktober 25, 2006

Papiku belum pulang
Mamiku belum pulang
Kakakku belum pulang
Katanya cari uang

Hanya ada pembantu
Mengurusi hidupku
Hanya ada televisi
Menemani hariku

Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…
Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…

Ketika papi pulang
Mukanya sangat tegang
Ketika mami pulang
Menyapa hallo sayang
Ketika kakak pulang
Jalanya sudah goyang
Katanya cari uang…
Katanya cari uang…

Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…
Aku bosan… aku bosan… aku bosan…
Bosan… bosan… bosan… bosan…


Aku Sayang Kamu

Oktober 21, 2006

Susah…susah mudah kau kudekati
Kucari… engkau lari kudiam kau hampiri
Jinak burung dara justru itu kusuka
Bila engkau tertawa hilang semua duka

Gampang naik darah…omong tak mau kalah
Kalau datang senang…nona cukup ramah
Bila engkau bicara…setan logika
Sedikit keras kepala…ah dasar betina

Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Kuperlu kamu…sungguh perlu kamu

Engkau aku sayang…sampai dalam tulang
Banyak orang bilang…aku mabuk kepayang

Aku cinta kamu
Bukan cinta uangmu
Aku puja selalu setiap ada waktu

Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Ku perlu kamu…sungguh perlu kamu

Langsat kuning cina, warna kulit nona
Bibir merah muda, lesung pipit pun ada
Wajah cukup lumayan, dapat point enam
Kalau nona berjalan rembulan pun padam

Ku suka kamu…sungguh suka kamu
Ku perlu kamu…sungguh perlu kamu


Aku Antarkan

Oktober 21, 2006

Aku antar kau
Sore pukul lima
Laju roda dua
Seperti malas tak beringas

Langit mulai gelap
Sebentar lagi malam
Namun kau harus
Kembali tinggalkan kota ini

Saat lampu-lampu mulai dinyalakan
Semakin erat lingkar lenganmu di pinggangku
Jarak bertambah dekat dua kelok lagi
Stasiun bis antarkota pasti terlihat

Tak terasa seminggu
Sudah engkau di pelukku
Tak terasa seminggu
Alangkah cepatnya waktu
Tak terasa seminggu
Habis kulumat bibirmu
Tak terasa seminggu
Tak bosan kau minta itu
Tiba ditujuan
Mesin kumatikan
Jariku kau genggam
Seakan enggan kau lepaskan