Cikal

Oktober 26, 2006

Kerbau di kepalaku ada yang suci
Kerbau di kepalamu senang bekerja
Kerbau di sini teman petani

Ular di negara maju menjadi sampah nuklir
Ular di dalam buku menjadi hiasan tatoo
Ular di sini memakan tikus

Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Kerbauku teman petani
Ularku memakan tikus

Kerbauku besar, kerbauku seram
Tetapi ia bukan pemalas
Hidupnya sederhana, hmm… hmm…

Sancaku besar, sancaku seram
Mengganti kulit luar sarang, makan dan bertapa
Hidupnya sederhana

Ularku ular sanca
Kerbauku kerbau petani
Ularku memakan tikus
Kerbauku teman petani

Walau kerbauku bukan harimau
Tetapi ia bisa seperti harimau
Kerbauku tetap kerbau
Kerbau petani yang senang bekerja
Sancaku melilitnya
Kerbauku tidak terganggu
Karena sancaku dan kerbau temannya petani

Lalu dimana anak-anak sang tikus
Bayi, bayi, bayi, murni dan kosong
Bayi, bayi, bayi, bayi ya bayi

Kalau kita sedang tidur dan tiba-tiba saja kita terbangun
Karena lubang hidung kita terkena kumis harimau
Mungkin kita akan lari, ya lari, tetapi bayiku tidak
Bukan karena bayiku belum bisa berlari
Aku percaya, aku percaya
Bayiku tidak akan pernah berpikir bahwa harimau itu jahat
Bayiku menarik-narik kumis dan memukul-mukul mulut harimau
Harimau malah memberikan bayiku mainan
Bayiku menjadi bayi harimau
Bayi harimau anak petani
Seperti sanca melilit kerbau
Ia ada di gorong-gorong kota
Lantas apa agamanya?

REF 1:
Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku murni dan kosong
Ia ada di gorong-gorong kota

REF 2:
Kerbauku kerbau petani
Ularku ular sanca
Bayiku bayi harimau
Ia ada di gorong-gorong kota

Bayi, bayi, bayi, murni dan kosong
Bayi, bayi, bayi, bayi harimau
Bayi, bayi, bayi, yang berkalung sanca
Bayi, bayi, bayi, yang disusui kerbau


Celoteh Camar Tolol Dan Cemar

Oktober 25, 2006

Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan
Keras melebihi gemuruh gelombang
Yang datang

Sejuta lumba lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar
Tampomas terbakar
Risau camar memberi salam
Tampomas Dua tenggelam

Asap kematian Dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan

Hatiku rasa Bukan takdir tuhan
Karena aku yakin itu tak mungkin

Korbankan ratusan jiwa Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa Demi peringatan manusia

Korbankan ratusan jiwa Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa Demi peringatan manusia

Bukan bukan itu Aku rasa kita pun tahu
Petaka terjadi Karena salah kita sendiri

Datangnya pertolongan Yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan Lamban engkau pahlawan
Celoteh sang camar

Bermacam alasan Tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat Jilat api dan jerit penumpang kapal

Tampomas sebuah kapal bekas Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang naas


Cik

Oktober 25, 2006

Cepat kemari calon istriku
Ajarkan aku setiap pagi cium mesra bibirmu

Larilah dekap tubuhku erat
Otakku buntu aku tak tahu hadapi soal serupa itu
Nona cantik calon istriku tolonglah aku

Pikat hatiku dengan tingkahmu
Sebelum kita siap arungi
Lautan luas penuh tantangan
Tampak perahu kecil kita menunggu di dermaga

Riak gelombang suatu rintangan
Ingat itu pasti kan datang
Karang tajam sepintas seram
Usah gentar bersatu terjang

Ulurkan tanganmu
Pasti kugenggam jarimu
Kecup mesra hatiku
Rintangan kuyakin pasti berlalu

Ulurkan tanganmu
Pasti kugenggam jarimu
Kecup mesra hatiku
Rintangan kuyakin pasti berlalu

Riak gelombang suatu rintangan
Ingat itu pasti kan datang
Karang tajam sepintas seram
Usah gentar bersatu terjang

Cepat kemari calon istriku
Ajarkan aku setiap pagi
Kucium mesra jidatmu

Larilah dekap tubuhku erat
Otakku buntu aku tak tahu
Hadapi soal serupa itu
Nona cantik calon istriku tolonglah aku

Pikat hatiku dengan tingkahmu
Sebelum kita siap arungi
Lautan luas penuh tantangan
Tampak perahu kecil kita menunggu di dermaga


Columbia

Oktober 25, 2006

Langit nampak murung seperti gelisah
Angin bawa kabar tentang duka, di sana…

Lolong anjing malam bawa pertanda
Alam bawa kisah unggas resah
Beritakan.. Tangis..

Saat gelombang lahar
Hanyutkan ribuan manusia
Tanpa mau mengerti datang tepati janji

Waktu seorang ibu
Belai mesra anaknya
Gemuruhnya petaka singkirkan jeritan yang ada
Batu-batu telanjang, menari di nurani
Hancurkan rumah-rumah, hancurkan kedamaian

Colombia… Colombia…

Sementara kita di sini
Tanpa beban bernyanyi
Sedangkan mereka gundah
Di sela ganasnya wabah

Sementara kita di sini
Asyik cumbui mimpi
Sedangkan mereka di sana
Rindukan riuhnya pesta

Ada sekuntum bunga mekar
Bercengkrama dengan lahar


Coretan Dinding

Oktober 15, 2006

Coretan di dinding membuat resah
Resah hati pencoret mungkin ingin tampil

Tepi lebih resah pembaca coretannya
Sebab coretan di dinding
Adalah pemberontakan Kucing hitam yang terpojok di tiap tempat sampah

Ditiap kota . . . . . . . .

Cakarnya siap dengan kuku-kuku tajam
Matanya menyala mengawasi gerak musuhnya

Musuhnya adalah penindas
Yang menganggap remeh coretan dinding kota

Coretan dinding terpojok di tempat sampah
Kucing hitam dan penindas sama-sama resah