Kota 2

Oktober 25, 2006

Kota adalah rimba belantara buas dari yang terbuas
Setiap jengkal lorong terpecik darah
Darah dari iri, darah dari benci
Bahkan darah dari sesuatu yang tak pasti

Kota adalah rimba belantara liar dari yang terliar
Setiap detik taring-taring tajam mengancam
Setiap menit lidah-lidah liar rakus muncul, lapar

Tangis bayi adalah lolong srigala di bawah bulan
Lengking tinggi merobek batu-batu tebing keras dan kejam

Bernafas di antara sikut licik dan garang
Bergerak di antara ganasnya selaksa karang

Kota adalah hutan belantara akal
Kuat dan berakar mencurai di depan mata
Siap menjerat leher kita

Tangis bayi adalah lolong srigala di bawah bulan
Lengking tinggi merobek batu-batu tebing keras dan kejam

Iklan

Kuli Jalan

Oktober 25, 2006

Derap langkah dan reringat kuli pembuat jalan
Dengan pengki ditangan kiri, pacul di pundak kanan
Dengus nafasnya, terdengar bagai suara kereta
Keringat mereka menyengat aroma penderitaan

Berjalan gontai perlahan
Berbaris bagai tentara yang kalah perang
Kerja keras kau lakukan
Walau upah tak berimbang
Bak sapi perahan

Kuli jalan kerja siang dan malam
Kuli jalan peduli curah hujan
Kuli jalan panas tak dihiraukan
Kuli jalan upah jauh berimbang
Kuli jalan pahlawan terlupakan

Kuli jalan menangis di lubang galian
Kuli jalan resah di kaki tuan
Kuli jalan anak isteri menunggu bimbang


Kupu-Kupu Hitam Putih

Oktober 20, 2006

Menunggu matahari terbit dimusim hujan
Mendung menjadi teman ada juga keindahannya
Butir embun yang ada di daun bagai intan berlian
Lebih riang ia berkilauan karena matahari tertutup awan

Suara burung – burung di dahan nyanyian alam
Bekerja ia mencari makan ada juga yang membuat sarang
Iri aku menyaksikan itu tapi kutekan aku harus bersyukur
Berguru pada kenyataan pada makhluk tuhan yang katanya tak berakal

Mendung datang lagi setelah hangat sebentar
Butir embun hilang aku jadi termenung
Mencari pegangan mencoba untuk bersandar
Langit makin hitam aku jadi berharap pada hujan

Kupu-kupu hitam putih terbang di sekitarku
Melihat ia menari hatiku terpatri
Sepasang merpati bercumbu di balik awan
Kemudian ia turun menukik sujud syukur pada-Nya


Kereta Tiba Pukul Berapa

Oktober 20, 2006

Hilang sabar dihati dan tak terbendung lagi
Waktu itu
Lama memang kutunggu kedatanganmu
Sobat karibku

Datang telegram darimu
Dua hari yang lalu
Tunggu aku
Di stasiun kereta itu pukul satu

Ku pacu sepeda motorku
Jarum jam tak mau menunggu
Maklum rindu

Traffic light aku lewati
Lampu merah tak peduli
Jalan terus

Di depan ada polantas
Wajahnya begitu buas
Tangkap aku
Tawar menawar harga pas tancap gas

Sampai stasiun kereta
Pukul setengah dua
Duduk aku menunggu
Tanya loket dan penjaga
Kereta tiba pukul berapa

Biasanya…kereta terlambat
Dua jam mungkin biasa
Dua jam mungkin biasa (cerita lama)


Kemesraan

Oktober 20, 2006

Suatu hari Dikala kita duduk ditepi pantai
Dan memandang ombak dilautan yang kian menepi
Burung camar terbang bermain diderunya air
Suara alam ini hangatkan jiwa kita

Sementara sinar surya perlahan mulai tenggelam
Suara gitarmu mengalunkan melodi tentang cinta
Ada hati membara erat bersatu
Getar seluruh jiwa tercurah saat itu

Kemesraan ini… janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini… inginku kenang selalu
Hatiku damai… jiwaku tentram disamping mu
Hatiku damai… jiwa ku tentram bersamamu


Ku Menanti Seorang Kekasih

Oktober 15, 2006

Bila mentari bersinar lagi
Hatikupun ceria kembali … asyik

Kutatap mega tiada yang hitam
Betapa indah hari ini

Kumenanti seorang kekasih
Yang tercantik yang datang dihari ini

Adakah dia kan selalu setia
Bersanding hidup penuh pesona

Harapanku

Jangan kau tak menepati
Datanglah dengan kasihmu

Andai kau tak datang kali ini
Punah harapanku