Pulanglah (buat Munir Said Thalib)

September 1, 2007

Padi menguning tinggal di panen
Bening air dari gunung
Ada juga yang kekeringan karena kemarau

Semilir angin perubahan
Langit mendung kemerahan
Pulanglah kitari lembah persawahan

Selamat jalan pahlawanku
Pejuang yang dermawan
Kau pergi saat dibutuhkan saat dibutuhkan

Keberanianmu mengilhami jutaan hati
Kecerdasan dan kesederhanaanmu
Jadi impian

Pergilah pergi dengan ceria
Sebab kau tak sia sia
Tak sia sia
Tak sia sia
Pergilah kawan
Pendekar

Satu hilang seribu terbilang
Patah tumbuh hilang berganti
Terimalah sekedar kembang
Dan doa doa

Suci sejati, suci sejati

* Munir Said ThalibĀ  adalah pejuang hak asasi manusia dan demokrasi di Indonesia. Beliau telah mati dibunuh.


Panggilan Dari Gunung

Oktober 26, 2006

Panggilan dari gunung
Turun ke lembah-lembah

Kenapa nadamu murung
Langkah kaki gelisah

Matamu separuh katup
Lihat kolam seperti danau

Kau bawa persoalan
Cerita duka melulu

Di sini… menunggu
Cerita… yang lain
Di sini… menunggu
Cerita… yang lain menunggu

Berapa lama diam
Cermin katakan bangkit
Pohon-pohon terkurung
Kura-kura terbius


Proyek 13

Oktober 26, 2006

Meskipun kurang paham tentang radiasi
Meskipun kurang paham tentang uranium
Meskipun kurang paham tentang plutonium
Ku tahu radioaktif panjang usia

Aku tak tahu sampahnya ada dimana
Aku tak tahu pula cara menyimpannya
Aku tak yakin tentang pengamanannya
Karena kebocoran pun ada disana

Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi

Aku menolak akal yang tanpa hati
Aku menolak teknologi tanpa kendali
Aku tak mau mengijonkan masa depan
Demi listrik sedikit banyak keruwetan

Sama sekali ku tak anti teknologi
Tapi aku lebih percaya pada hati
Aku tahu listrik penting buat industri
Tapi industri jangan ancam masa depan

Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi

Daripada susah payah beli reaktor
Daripada pusing karena sampah nuklir
Daripada malu kepada anak cucu
Aku bergerak menyanyikan kehidupan

Informasi tentang ini harus diberikan
Bahaya dunia maju harus disingkirkan
Rasa gengsi tak perlu diteruskan
Pembangunan PLTN harap hentikan

Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi
Oh apa yang sesungguhnya sedang terjadi

Apa yang akan terjadi nanti

Untuk listrik banyak memerlukan sumber energi
Pilihanmu pun tentu jadi dicurigai
Sebab di negeri maju reaktor ditutupi
Bukan alasan agar republik ini beli

Aku lebih suka tenaga matahari
Aku lebih suka tenaga panas bumi
Aku lebih suka dengan tenaga angin
Aku lebih suka tenaga arus laut


Pinggiran Kota Besar

Oktober 25, 2006

Pinggiran kota besar Nafasmu makin bingar
Kudengar dari sini Bagai nyanyiannya oh

Cerobong asap pabrik Berlomba ludahi langit
Barisan mobil besar Gelisah angkut barang

Ada kabar engkau tuli

Pinggiran kota besar Kulihat tidur mendengkur
Diranjang banyak orang Peduli kau bermimpi

Selagi cukup nyenyak Asiknya buang kotoran
Lukai hari kami Cemari hati ini

Ada kabar engkau buta

Sungai kotor bau dan beracun Penuh limbah kimia
Kita mandi mencuci disana Lihatlah lihatlah

Ikan ikan pergi atau mati Tak kulihat yang pasti
Kau yang tidur bangunlah segera Lihatlah lihatlah

Telanjang anak kecil Berenang disungai kotor
Tertawa riang bercanda Sambil menggaruk koreng

Pinggiran kota besar Merasa tidur terganggu
Beranjak dari ranjang Tutup pintu jendela
Nutup pintu jendela

Sungai kotor bau dan beracun Penuh limbah kimia
Kita mandi mencuci disana Lihatlah lihatlah

Ikan ikan pergi atau mati Tak kulihat yang pasti
Kau yang tidur bangunlah segera
Lihatlah lihatlah

Hitam kaliku Hitam legam hatiku
Legam hariku Legam hitam kaliku


Pak Tua

Oktober 25, 2006

Kamu yang sudah tua apa kabarmu?
Katanya baru sembuh katanya sakit
Jantung ginjal dan encok sedikit saraf
Hati hati pak tua istirahatlah

Diluar banyak angin

Kamu yang murah senyum memegang perut
Badanmu semakin tambun memandang langit
Hari menjelang maghrib pak tua ngantuk
Istri manis menunggu istirahatlah

Diluar banyak angin

Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh ya
Pak tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja oh ya

Pak tua oh oh oh

Tidur pak?


Puing 2

Oktober 25, 2006

Perang perang lagi Semakin menjadi
Berita ini hari Berita jerit pengungsi

Lidah anjing kerempeng Berdecak keras beringas
Melihat tulang belulang Serdadu boneka yang malang

Tuan tolonglah tuan Perang dihentikan
Lihatlah ditanah yang basah Air mata bercampur darah

Bosankah telinga tuan Mendengar teriak dendam
Jemukah hidung tuan Mencium amis jantung korban

Jejak kaki para pengungsi Bercengkrama dengan derita
Jejak kaki para pengungsi Bercerita pada penguasa
(Bercerita pada penguasa)

Tentang ternaknya yang mati Tentang temannya yang mati
Tentang adiknya yang mati Tentang abangnya yang mati
Tentang ayahnya yang mati Tentang anaknya yang mati
Tentang neneknya yang mati Tentang pacarnya yang mati
(Tentang ibunya yang mati) Tentang istrinya yang mati
Tentang harapannya yang mati

Perang perang lagi Mungkinkah berhenti
Bila setiap negara Berlomba dekap senjata
Dengan nafsu yang makin menggila Nuklir pun tercipta
Tampaknya sang jenderal bangga Dimimbar dia berkata

Untuk perdamaian
Demi perdamaian
Guna perdamaian
Dalih perdamaian

Mana mungkin Bisa terwujudkan
Semua hanya alasan Semua hanya bohong besar


Perempuan Malam

Oktober 25, 2006

Perempuan malam mandi di kali
Buih-buih busa shampo ketengan
Diatas kepala lewat kereta
Yang berjalan lamban nakal menggoda
Disambut tawa renyah memecah langit
Dengus kereta semakin genit

Semua noda coba dibersihkan
Namun masih saja terlihat kotor
Karena kereta kirimkan debu
Yang datang tak mampu ia tepiskan
Perempuan malam kenakan handuknya
Setelah usap seluruh tubuhnya

Hangatkan tubuh di cerah pagi, pada matahari
Keringkan hati yang penuh tangis, walau hanya sesaat
Segelas kopi, sebatang rokok
Segurat catatan yang tersimpan
Perempuan malam menunggu malam
Untuk panjangnya malam

Perempuan malam diikat tali
Di hidup, di mimpi, di hatinya
Aku hanya lihat dari jembatan
Tanpa mampu untuk melepaskan
Perempuan malam dipinggir jerami
Nyanyikan doa, nyalakan api
Perempuan malam dipinggir jerami
Nyanyikan doa, nyalakan api