Rubah

September 1, 2007

Jaman berubah perilaku tak berubah
Orang berubah tingkah laku tak berubah
Wajah berubah kok menjadi lebih susah
Manusia berubah, berubah rubah

Kasih yang dicari yang ada komedi
Revolusi dinanti yang datang Ashari
Lembaga berdiri berselimut korupsi
Wibawa menjadi alat melindungi diri

Pendidikan adalah anak tiri yang kesepian
Agama sebagai topeng yang menjijikkan
Kemiskinan merajalela yang kaya makin rakus saja
Hukum dan kesehatan diperjual belikan

Kesaksian tergusur oleh kepentingan ngaur
Pemerintah keasyikan berpolitik (ngaur)
Partai politik sibuk menuhankan uang (ngaur)
Ada rakyat yang lapar makan daun dan arang
Televisi sibuk mencari iklan
Sementara banyak yang tnggu giliran
Rakyat dan sang jelata menatap dengan mata kosong

Dimana aku
Apa ditelan tsunami?


Rinduku

Oktober 25, 2006

Tolong rasakan ungkapan hati
Rasa saling memberi
Agar semakin erat hati kita
Jalani kisah yang ada

Ku tak pernah merasa jemu
Jika kau selalu disampingku
Begitu nyanyian rinduku
Terserah apakah katamu

Rambutmu matamu bibirmu kurindu
Senyummu candamu tawamu kurindu

Beri aku waktu sedetik lagi
Menatap wajahmu
Esok hari ini atau nanti
Mungkin tak kembali

Rambutmu matamu bibirmu kurindu
Senyummu candamu tawamu kurindu


Rindu Tebal

Oktober 20, 2006

Sewindu sudah lamanya waktu
Tinggalkan tanah kelahiranku
Rinduku tebal kasih yang kekal
Detik ke detik bertambah tebal

Pagi yang kutelusuri riuh tak bernyanyi
Malam yang aku jalani sepi tak berarti

Saat kereta mulai berjalan
Rinduku tebal tak tertahankan

Terlintas jelas dalam benakku
Makian bapak usirku kupergi
Hanya menangis yang emak bisa
Dengan terpaksa kutinggalkan desa

Seekor kambing kucuri
Milik tetangga tuk makan sekeluarga
Bapak tak mau mengerti
Hilang satu anak tuk harga diri

Aku pergi meninggalkan coreng hitam di muka bapak
Yang membuat malu keluargaku
Ku ingin kembali mungkinkah mereka mau terima rinduku

Maafkan semua kesalahanku
Kursi kereta yang pasti tahu