Untuk Para Pengabdi

Oktober 25, 2006

Kesetiaan masih ada
Setidaknya menjadi cita-cita
Itu sebabnya aku disini menemanimu

Siang malam kuberjaga
Di relung hatimu di dalam benakmu
Di setiap langkahmu mudah2an begitu

Silahkan engkau tertawa sepuas hatimu
Ku takkan pernah berpaling
Karena hinaan itu
Bahagia rasanya kalau engkau berduka

Untuk pengabdi lagu para pengabdi
Di puncak gunung
Di tengah-tengah samudera
Di dalam rimba
Di kebingungan desa dan kota
Ya .. ya .. ya .. ya


Untukmu Negeri

Oktober 25, 2006

Perihnya masih terasa sakitnya tak terhingga
Nafsu ingin berkuasa sungguh mahal ongkosnya

Apapun yang akan terjadi aku tak akan lari
Apalagi bersembunyi takkan pernah terjadi

Air mata darah telah tumpah
Demi ambisi membangun negeri
Kalaulah ini pengorbanan
Tentu bukan milik segelintir orang

Belum cukupkah semua ini
Apakah tidak berarti lihatlah wajah ibu pertiwi
Pucat letih dan sedihnya berkarat

Berdoa terus berdoa
Hingga mulutnya berbusa-busa
Ludahnya muncrat saking kecewa
Ibu pertiwi hilang tawanya tak percaya masih ada cinta

Seluruh hidupku jadi siaga
Pagar berduri kutancapkan di hati
Untukmu negeri – yang telah memberi arti
Untukmu negeri – yang telah melukai ibu kami
Untukmu negeri – yang telah merampas anak kami
Untukmu negeri – yang telah memperkosa saudara kami
Untukmu negeri – waspadalah untukmu negeri – bangkitlah
Untukmu negeri – bersatulah
Untukmu negeri – sejahteralah

Kamu negeriku sejahteralah kamu


Untuk Yani

Oktober 25, 2006

Rembulan tenang dan bisu
Anak bangsa berjalan
Berdesakan bagai tikus di jalan yang licin
Berdesakan bertanya pada masa silam
Apa nasib bumi pertiwi?

Angin subuh mengukuri tubuh-tubuh hitam dengan kabut
Rembulan bisu nafasnya mengalir tenang

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Rembulan tenang dan bisu
Anak bangsa bergerak
Berdesakan didalam kereta malam
Berdesakan dari desa-desa ke kota
Apa nasib bumi pertiwi?

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho…

Rembulan tenang dan bisu
Anak bangsa berbaris
Berharapan di depan gerbang pendidikan
Berharapan bermimpi tentang masa depan
Apa nasib bumi pertiwi?

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?

Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho…
Oh… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho… Ho…

Wahai kenyataan alam, wahai kenyataan diri, wahai kenyataan jaman
Apa nasib bumi pertiwi?


Ujung Aspal Pondok Gede

Oktober 21, 2006

Di kamar ini aku dilahirkan
Di bale bambu buah tangan bapakku
Di rumah ini aku dibesarkan
Dibelai mesra lentik jari ibuku

Nama dusunku ujung aspal pondok gede
Rimbun dan anggun
Ramah senyum penghuni dusunku

Kambing sembilan motor tiga
Bapak punya
Ladangnya luas habis sudah sebagai gantinya

Sampai saat tanah moyangku
Tersentuh sebuah rencana
Demi serakahnya kota
Terlihat murung wajah pribumi
Terdengar langkah hewan bernyanyi

Di depan masjid
Samping rumah wakil pak lurah
Tempat dulu kami bermain
Mengisi cerahnya hari

Namun sebentar lagi
Angkuh tembok pabrik berdiri
Satu persatu sahabat pergi
Dan tak kan pernah kembali