Berputar Putar

Oktober 26, 2006

Berputar dan berputar
Tak berawal
Tak berakhir

Berputar lagi berputar
Tak berawal
Tak berakhir

Berputar terus berputar
Tak berawal
Tak berakhir

Iklan

Berapa

Oktober 26, 2006

Berapa jauh seorang lelaki
Tempuh jarak lalu jalan mendaki
Berapa cepat seorang lelaki
Tanpa keluh sigap dia berlari

Berapa dalam seorang lelaki
Selami lautan demi tepati janji
Berapa keras seorang lelaki
Pecahkan cadas di atas kaki sendiri


Barang Antik

Oktober 25, 2006

Berjalan tersendat
Diantara sedan sedan licin mengkilat
Dengan warna pucat
Dan badan penuh cacat sedikit berkarat

Hei oplet tua dengan bapak sopir tua
Cari penumpang dipinggiran ibukota
Sainganmu mikrolet, bajai dan bis kota
Kini kau tersingkirkan oleh mereka

Bagai kutu jalanan
Di tengah tengah kota metropolitan
Cari muatan
Untuk nguber setoran sisanya buat makan

Hei oplet tua dengan bapak sopir tua
Cari penumpang dipinggiran ibukota
Sainganmu mikrolet, bajai dan bis kota
Kini kau tersingkirkan oleh mereka

Berjalan zig zag ngebut
Nggak peduli walau mobil sudah butut
Suara bising ribut
Yang keluar dari knalpotmu bagai kentut

Hei oplet tua dengan bapak sopir tua
Cari penumpang dipinggiran ibukota
Sainganmu mikrolet, bajai dan bis kota
Kini kau tersingkirkan oleh mereka

Oh bapak tua
Pemilik oplet tua
Tunggu nanti di tahun dua ribu satu
Mungkin mobilmu
Jadi barang antik
Yang harganya selangit

Oh bapak tua
Pemilik oplet tua
Tunggu nanti di tahun dua ribu satu
Mungkin opletmu
Jadi barang nyentrik
Yang harganya selangit


Berkacalah Jakarta

Oktober 25, 2006

Langkahmu cepat seperti terburu
Berlomba dengan waktu
Apa yang kau cari belumkah kau dapati
Diangkuh gedung gedung tinggi

Riuh pesta pora sahabat sejati
Yang hampir selalu saja ada

Isyaratkan enyahlah pribadi

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta

Lari kota Jakarta lupa kaki yang luka
Mengejek langkah kura kura
Ingin sesuatu tak ingat bebanmu
Atau itu ulahmu kota

Ramaikan mimpi indah penghuni

Jangan kau paksakan untuk berlari
Angkuhmu tak peduli
Luka di kaki

Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari
Bila luka di kaki belum terobati
Berkacalah Jakarta


Berikan Pijar Matahari

Oktober 25, 2006

Terhimpit gelak tertawa di sela meriah pesta
Seribu gembel ikut menari seribu gembel terus bernyanyi
Keras melebihi lagu tuk berdansa
Keras melebihi gelegar halilintar yang ganas menyambar

Ku yakin pasti terlihat dansa mereka begitu dekat
Ku yakin pasti terdengar nyanyi mereka yang hingar bingar
Seolah kita tidak mau mengerti
Seolah kita tidak pernah peduli pura buta dan pura tuli

Mari kita hentikan dansa mereka dengan memberi pijar matahari
Dengan memberi pijar matahari

Terkurung gedung – gedung tinggi
Wajah murung yang hampir mati
Biar kan mereka iri wajar bila mencaci maki

Nafas terasa sesak bagai terkena asma
Nampak merangkak degup jangtung keras berdetak
Tiap detik sepertinya hitam

Tak sanggup aku melihat luka mu kawan di cumbu lalat
Tak kuat aku mendengar jerit mu kawan melebihi dentum meriam


Balada Orang-orang Pedalaman

Oktober 21, 2006

He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . Ya y a ya ho ya he . . . . . .

Balada orang-orang pedalaman

He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . Ya y a ya ho ya he . . . . . .

Di hutan di gunung dan di pesisir

He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .

Manusia yang datang dari kota
Tega bodohi mereka
Lihat tatapannya yang kosong
Tak mengerti apa yang terjadi

He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .

Tak tajam lagi tombak panah dan parang

He . . . . . Ya y a ya he ya ho . . . . . .
He . . . . . Ya y a ya ho ya he . . . . . .

Tak ampuh lagi mata dari sang pawang
Di mana lagi cari hewan buruan
Yang pergi karena senapan
Di mana mencari ranting pohon
Kalau sang pohon tak ada lagi . . . . . .

Pada siapa mereka tanyakan hewannya
Ya . . . . . Pada siapa tanyakan pohonnya

Saudaraku di pedalaman menanti
Sebuah jawaban yang tersimpan di hati
Lewatmu… kembali

Pada orang-orang pedalaman
Yang menari dan menyanyi
Dihalau bising ribuan deru gergaji


Bangunlah Putra Putri Pertiwi

Oktober 21, 2006

Sinar matamu tajam namun ragu
Kokoh sayapmu semua tahu
Tegap tubuhmu takkan tergoyahkan
Kuat jarimu kalau mencengkeram
Bermacam suku yang berbeda
Bersatu dalam cengkeramanmu

Angin genit menghembus merah putihku
Yang berkibar sedikit malu-malu
Merah membara tertanam wibawa
Putihmu suci penuh kharisma
Pulau pulau yang berpencar
Bersatu dalam kibarmu

Terbanglah garudaku
Singkirkan kutu-kutu di sayapmu oh…
Berkibarlah benderaku
Singkirkan benalu di tiangmu
Jangan ragu dan jangan malu
Bahwa sebenarnya kita mampu

Mentari pagi sudah membumbung tinggi
Bangunlah putra putri pertiwi
Mari mandi dan gosok gigi
Setelah itu kita berjanji
Tadi pagi esok hari atau lusa nanti

Garuda bukan burung perkutut
Sang saka bukan sandang pembalut
Dan coba kau dengarkan
Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut

Yang hanya berisikan harapan
Yang hanya berisikan khayalan